Mendobrak Sekat: Dari "Sekolah Saja" Menjadi "Rumah Kedua"
Dulu, sekolah mungkin sering dianggap sebagai entitas terpisah dari kehidupan rumah. Namun, kini madrasah bergerak melampaui batas-batas fisik. Konsep "Madrasah Ramah Anak" bukan hanya slogan, melainkan filosofi yang diterapkan dengan melibatkan tiga pilar utama:
1. Madrasah Sebagai Fasilitator:
Madrasah kini berfungsi sebagai pusat ekosistem pendidikan. Mereka proaktif merancang program-program yang tidak hanya melibatkan siswa, tetapi juga orang tua dan masyarakat. Ini bisa berupa workshop parenting, kegiatan keagamaan bersama, atau proyek sosial yang melibatkan seluruh komunitas.
2. Keluarga Sebagai Mitra Aktif:
Orang tua tidak lagi hanya menerima rapor, melainkan menjadi bagian integral dari proses pendidikan. Mereka diundang untuk berpartisipasi dalam:
Evaluasi Perkembangan Anak: Bukan hanya nilai akademik, tetapi juga perkembangan karakter dan sosial-emosional.
Kelas Inspirasi: Orang tua berbagi keahlian mereka di kelas, memberikan perspektif dunia nyata kepada anak-anak.
Kegiatan Keagamaan Bersama: Pengajian keluarga, iftar bersama, atau perayaan hari besar Islam yang melibatkan seluruh keluarga madrasah.
Madrasah juga membuka diri kepada masyarakat. Program pengabdian masyarakat oleh siswa, kolaborasi dengan tokoh agama setempat, atau penggunaan fasilitas umum untuk kegiatan belajar di luar kelas, semuanya menciptakan ekosistem yang kaya dan mendukung. Anak-anak belajar bahwa mereka adalah bagian dari komunitas yang lebih besar dan memiliki peran di dalamnya. (Admin)